Kisah kopi Lestari: UMKM binaan BI yang menginspirasi.

Rejang Lebong, news-raflesia-indonesia.my.id – Di balik harum secangkir kopi premium Coffee Lestari, tersimpan kisah perjuangan panjang yang penuh semangat dan ketekunan.

Supriadi, pemilik usaha kopi asal Sindang Dataran, Kabupaten Rejang Lebong, membuka kisah hidupnya di hadapan para wartawan ekonomi yang berkunjung dalam agenda capacity building Bank Indonesia, Minggu (25/5).

Kisahnya dimulai tahun 2012. Saat itu, Supriadi hanyalah buruh harian bangunan yang memutuskan banting setir mencoba usaha kopi meski tanpa pengalaman.

Awal usahanya tidak mudah. Menjual 10 kilogram bubuk kopi pun sulit. Ia bahkan harus rela meminum sendiri produk yang tak laku terjual.

Tak patah semangat, ia mulai menitipkan kopi ke warung-warung sekitar. Strateginya sederhana: jika rasanya cocok, pelanggan akan datang kembali.

Setelah tiga tahun menabung, Supriadi membeli alat roasting kayu sederhana seharga Rp40 juta. Alat itu jadi titik awal peningkatan kualitas dan produktivitas.

Tahun 2016 menjadi titik balik. Ia bertemu Anton, perwakilan Bank Indonesia Bengkulu, saat kunjungan ke Curup. Pertemuan itu membuka jalan kemitraan.

Melihat potensi besar, Bank Indonesia mulai mendampingi Coffee Lestari sebagai UMKM binaan. Dukungan itu meliputi pelatihan, promosi, dan penguatan usaha.

Kini, Coffee Lestari memiliki 16 mitra petani yang rutin memasok biji kopi. Produknya berkembang menjadi tiga varian unggulan: Sintaro 1, Sintaro 2, dan Kopi Hensen.

Puncak pengakuan datang saat Coffee Lestari tampil di World of Coffee Jakarta 2025. Di sana, produknya meraih penilaian terbaik kedua dari seluruh peserta UMKM binaan BI.

Bagi Supriadi, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah lambang perjuangan hidup dan simbol harapan yang diseduh dengan penuh cinta dan konsistensi.

“Saya percaya, selama kita bertahan dan jujur pada proses, hasil tak akan mengkhianati. Dari kopi, saya belajar hidup,” pungkas Supriadi dengan senyum penuh syukur.

banner 728x250