Sinergi BI dan Pemda, Inflasi Bengkulu diproyeksi tetap stabil hingga akhir tahun

Foto: istimewa

Bengkulu, news-raflesia-indonesia.my.id – Inflasi di Provinsi Bengkulu hingga Juli 2025 tercatat masih terkendali di angka 1,01 persen year to date. Capaian ini dinilai sebagai salah satu yang terbaik di tingkat nasional.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyebut kondisi tersebut menjadi bukti bahwa koordinasi pengendalian inflasi berjalan baik. Meski demikian, ia tetap mengingatkan agar kewaspadaan tidak kendor.

Foto: Dok. NRI

Menurut Wahyu, sejumlah komoditas pangan masih rentan mengalami fluktuasi harga. Faktor ini bisa mendorong inflasi naik sewaktu-waktu jika tidak diantisipasi sejak dini.

Pernyataan itu disampaikan Wahyu dalam Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Provinsi Bengkulu, Jumat (29/8/).

Rapat berlangsung dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Wakil Gubernur Bengkulu, Sekretaris Daerah, perwakilan kabupaten/kota, hingga unsur Forkopimda. Kehadiran lintas pemangku kepentingan ini diharapkan memperkuat sinergi daerah.

“Alhamdulillah, inflasi di Bengkulu masih terjaga di level 1,01 persen hingga Juli. Ini salah satu capaian terbaik nasional. Target kita tetap 2,5 persen plus minus 1 persen hingga akhir tahun,” jelas Wahyu.

Ia menegaskan, upaya pengendalian inflasi terus dijalankan melalui berbagai program. Di antaranya operasi pasar, gerakan pangan murah, serta subsidi distribusi barang ke masyarakat.

Meski inflasi terbilang stabil, Wahyu mengingatkan masih ada pekerjaan rumah bagi sejumlah TPID di daerah. Beberapa di antaranya belum lengkap dalam menyampaikan laporan program kerja ke pusat.

Padahal, menurut Wahyu, laporan tersebut sangat penting untuk menilai sejauh mana sembilan langkah pengendalian inflasi yang sudah dicanangkan benar-benar berjalan di lapangan.

Langkah pengendalian itu meliputi operasi pasar, pengawasan harga, hingga optimalisasi pemanfaatan APBD guna menjaga pasokan dan kestabilan harga barang pokok.

Selain itu, BI menekankan perlunya memperkuat produksi pangan lokal. Bengkulu dinilai masih bergantung pada pasokan luar daerah untuk komoditas bawang merah, beras, dan telur.

“Kami mendukung program ketahanan pangan seperti satu desa satu hektar. Jika produksi lokal kuat, inflasi lebih mudah dijaga,” tegas Wahyu.

Selain membahas inflasi, rapat juga menyinggung percepatan digitalisasi keuangan daerah. Digitalisasi dinilai mampu meningkatkan efisiensi, transparansi fiskal, sekaligus mendukung stabilitas ekonomi daerah.

banner 728x250