banner 1000x350

Redaksi

855 KIRIMAN 0 KOMENTAR

Bank Indonesia Bengkulu Gelar Forum BUKIT KABA 2025, Dorong Sinergi Ekonomi Dataran Tinggi.

Foto: istimewa, Dok. BI Bengkulu.

news-raflesia-indonesia – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu menyelenggarakan Forum BUKIT KABA 2025 (Bincang Urusan Ekonomi dan Kebijakan Terintegrasi Kajian dan Statistik Terbaru) pada 23 Juli 2025 di Hotel Sepanak Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong.

Forum ini merupakan inisiatif strategis Bank Indonesia untuk memperkuat peran advisory, diseminasi kajian dan data, serta koordinasi lintas otoritas guna mendukung ketahanan dan pertumbuhan ekonomi wilayah dataran tinggi Bengkulu secara berkelanjutan.

Dalam semangat kolaborasi pusat dan daerah, Bank Indonesia menghadirkan narasumber dari Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu.

Forum ini juga dihadiri oleh Bupati Rejang Lebong, Muhammad Fikri Thobari, Wakil Bupati Kepahiang, Abdul Hafidz, serta Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lebong, Nurbaiti, yang mewakili Bupati Lebong beserta lebih dari 100 peserta dari organisasi perangkat daerah (OPD), perbankan, pelaku usaha, dan akademisi di wilayah Rejang Lebong dan sekitarnya.

Pada kesempatan tersebut juga turut hadir Wahyu Yuwana Hidayat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Mohamad Irfan Surya Wardana, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bengkulu, dan Win Rizal, Kepala BPS Provinsi Bengkulu menyampaikan advisory strategis mengenai prospek makroekonomi, postur fiskal dan belanja daerah, serta sektor basis dan potensi wilayah.

Selain tiga narasumber utama, terdapat juga paparan dari Bupati Rejang Lebong, Muhammad Fikri Thobari, Wakil Bupati Kepahiang, Abdul Hafidz, serta Plt. Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lebong, Nurbaiti yang turut memperkaya perspektif daerah dalam merespons tantangan dan peluang pengembangan ekonomi lokal.

Stabilitas ekonomi nasional terus terjaga meskipun di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pada triwulan I 2025, ekonomi nasional tumbuh 4,87% (yoy), sementara Provinsi Bengkulu mencatat pertumbuhan 4,84% (yoy), ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, dan transportasi.

Wilayah dataran tinggi menjadi penyangga utama ketahanan pangan melalui komoditas unggulan seperti padi, jagung, cabai, bawang, kopi, dan hortikultura lainnya.

Wahyu Yuwana Hidayat menekankan pentingnya sinergi bauran kebijakan antara kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Fokus pembangunan di dataran tinggi Bengkulu dapat diarahkan pada dorongan hilirisasi pertanian dan optimalisasi nilai tambah SDA, penguatan infrastruktur konektivitas tiga daerah, sinergi forum komunikasi dan koridor ekonomi untuk tiga kabupaten, serta pengembangan investasi dan pariwisata terpadu.

Dari sisi fiskal, Mohamad Irfan Surya Wardana menyampaikan pentingnya optimalisasi Transfer ke Daerah (TKD) dan peningkatan efektivitas belanja publik di tiga kabupaten.

Struktur belanja saat ini masih didominasi oleh belanja pegawai dan operasional, sementara serapan belanja modal relatif rendah. Percepatan realisasi belanja modal dan program prioritas seperti DAK Fisik, BOK Puskesmas, serta belanja infrastruktur perlu terus dilakukan guna mempercepat pembangunan dan perekonomian daerah.

Foto: istimewa, Dok. BI Bengkulu.

Secara statistik, Win Rizal menyampaikan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor basis pada ketiga kabupaten dataran tinggi. Namun, terdapat kecenderungan menurunnya pangsa pertanian seiring dengan tumbuhnya sektor jasa publik dan perdagangan.

Oleh karena itu, diperlukan peningkatan produktivitas pertanian melalui modernisasi, efisiensi rantai pasok, dan hilirisasi komoditas unggulan.

Muhammad Fikri Thobari, Bupati Rejang Lebong, menyampaikan bahwa Kabupaten Rejang Lebong saat ini menghadapi tantangan ketahanan pangan akibat terjadinya defisit beras sebagai dampak dari alih fungsi lahan.

Meskipun demikian, komoditas pertanian strategis lainnya seperti jagung dan cabai menunjukkan neraca surplus yang positif. Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong mendorong program cetak sawah baru seluas lebih dari 800 hektar guna meningkatkan ketersediaan pangan dan memperkuat posisi Rejang Lebong sebagai lumbung pangan dataran tinggi.

Abdul Hafidz, Wakil Bupati Kepahiang, menyampaikan bahwa Kabupaten Kepahiang memiliki potensi besar di sektor pertanian dan pariwisata, dengan komoditas unggulan seperti kopi robusta, teh Kabawetan, serta destinasi alam seperti Danau Suro dan Curug Embun.

Pada triwulan I 2025, sektor primer berkontribusi lebih dari 47% terhadap total PDRB Kepahiang. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kepahiang menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah produk, promosi agrowisata, serta penguatan kemitraan strategis untuk pengembangan komoditas unggulan dan peningkatan konektivitas wilayah.

Nurbaiti, Plt. Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Lebong, menekankan strategi pembangunan yang berkeadilan dan berwawasan lingkungan, dengan fokus pada diversifikasi ekonomi dan optimalisasi APBD untuk penguatan pelayanan dasar serta pembangunan infrastruktur.

Pemerintah Kabupaten Lebong juga mendorong sinergi kebijakan moneter dan fiskal, khususnya dalam memperluas inklusi keuangan, pemberdayaan UMKM, serta percepatan transformasi ekonomi lokal berbasis potensi pertanian dan sumber daya alam unggulan.

Forum ini juga memperkuat koordinasi dalam pengendalian inflasi pangan melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan kerja sama strategis TPID. Strategi 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) dijalankan untuk menjaga inflasi Provinsi Bengkulu tetap dalam sasaran nasional 2,5±1%.

BUKIT KABA 2025 menjadi ruang dialog multipihak yang mempertemukan perspektif fiskal, moneter, dan statistik dengan kebijakan daerah.

Lebih lanjut, melalui forum ini diharapkan sinergi dan kolaborasi dapat tercipta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah dataran tinggi Provinsi Bengkulu.

Setiap kabupaten memiliki potensi yang berbeda, sehingga perlu untuk mengintegrasikan sektor-sektor unggulan seperti pertanian, pariwisata, dan industri untuk memperkuat daya saing daerah dan memastikan keberlanjutan pembangunan di masa depan. (rls/BI)

 

Di mana guru berkembang, Di sana masa depan dibentuk: HighScope Bengkulu gelar pelatihan kepemimpinan pendidikan di era global

Foto: Sabtu (19/7), di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Sekolah HighScope Bengkulu menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidiknya.

Bengkulu, news-raflesia-indonesia.my.id – Sekolah HighScope Indonesia Bengkulu, yang telah bertaraf internasional, kembali menunjukkan komitmen kuatnya terhadap kemajuan pendidikan di daerah dengan menggelar pelatihan intensif bagi para pendidiknya.

Foto: Sabtu (19/7), di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Sekolah HighScope Bengkulu menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidiknya.

Sabtu (19/7), suasana hangat menyelimuti ruang pelatihan di Two K Azana Style Hotel Bengkulu ketika para guru berkumpul untuk mengikuti pelatihan bertajuk Lead, Teach Collaboration, A Vision for Transformative Education.

Kegiatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan zaman sekaligus membekali para tenaga pendidik dengan kemampuan memimpin serta membangun budaya kolaboratif yang produktif di lingkungan sekolah.

Foto: Sabtu (19/7), di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Sekolah HighScope Bengkulu menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidiknya.

Dalam pelatihan bertema Lead, Teach Collaboration, A Vision for Transformative Education, jajaran pimpinan Sekolah HighScope Indonesia Bengkulu turut hadir mendukung penguatan kompetensi para pendidik. Hadir di antaranya Yuliana Rotua selaku Direktur Operasional, Teri Marlita Sari, S.Psi sebagai Principal ECEP & Elementary Program, Rezita Ayu Febriyani, S.Pd sebagai Principal Middle School, Korneles Kaloma Kuway sebagai School Director, serta Atanasius Gabe, S.Pd sebagai Teacher Coordinator. Kehadiran mereka mempertegas komitmen kolektif sekolah dalam menghadirkan pendidikan yang relevan, berkarakter, dan menjawab tantangan zaman.

Sesi pelatihan pertama bertajuk Lead mengajak peserta untuk memahami peran guru sebagai pemimpin yang mampu membentuk budaya belajar yang inspiratif.

Sesi berikutnya, Teach Collaboration, memberikan wawasan tentang pentingnya kerja tim dan komunikasi sebagai landasan terciptanya suasana belajar yang sehat dan inklusif.

Foto: Sabtu (19/7), di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Sekolah HighScope Bengkulu menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidiknya.

Melalui tema A Vision for Transformative Education, guru diajak untuk membangun pemahaman baru bahwa pendidikan harus relevan dan mampu membentuk karakter serta pola pikir peserta didik.

 

Fasilitator utama kegiatan ini adalah Yosia Yodan, Chief Executive Officer PT Yodan Land Group sekaligus pengelola HighScope Bengkulu, yang telah lama dikenal sebagai tokoh inovatif dalam dunia pendidikan lokal.

Dalam paparannya, Yosia menyampaikan bahwa metode constructive learning adalah fondasi dari pembelajaran di HighScope, di mana siswa didorong untuk berpikir kritis dan percaya pada kemampuannya sendiri.

“Kalau anak tidak percaya diri, bagaimana mungkin mereka bisa membuat orang lain percaya?” ujar Yosia saat memberi motivasi kepada peserta pelatihan.

Selain pengembangan karakter, pelatihan ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan kurikulum baru yang lebih progresif di tahun ajaran mendatang.

Bahasa Mandarin resmi dijadikan mata pelajaran unggulan di HighScope Bengkulu, sebagai respons terhadap tantangan era global dan dinamika geopolitik yang berkembang.

Menurut Yosia, penguasaan Bahasa Mandarin akan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi persaingan global yang semakin kompetitif.

Menariknya, tenaga pengajar Bahasa Mandarin di HighScope berasal dari putra-putri daerah Bengkulu yang telah menempuh pendidikan di Tiongkok dan memiliki kapasitas luar biasa.

Yosia menyebut, kolaborasi antar komunitas dan pemanfaatan potensi lokal adalah langkah strategis yang memperkuat kemandirian dan kebanggaan daerah.

Meski membawa pendekatan inovatif, HighScope Bengkulu menegaskan bahwa mereka tidak hadir untuk berkompetisi, melainkan membangun kolaborasi dengan seluruh elemen pendidikan.

“Kami bukan datang untuk bersaing, tapi untuk berkolaborasi,” kata Yosia kepada awak media yang hadir.

Ia juga menegaskan bahwa sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat merupakan syarat mutlak dalam menciptakan generasi yang berkualitas.

Saat ini, lebih dari 200 siswa dari jenjang “ECEP” hingga Middle School telah menjadi bagian dari HighScope Bengkulu, menikmati program pembelajaran berbasis karakter dan akademik.

Sekolah ini terus bertransformasi dengan pendekatan progresif yang menyentuh seluruh aspek pembentukan siswa — intelektual, emosional, dan sosial.

Transformasi pendidikan yang dilakukan HighScope diharapkan mampu menghadirkan generasi Bengkulu yang adaptif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan lintas sektor.

Dengan pelatihan semacam ini, Sekolah HighScope Bengkulu kembali menegaskan posisinya sebagai pionir pendidikan karakter dan akademik di Provinsi Bengkulu.

HighScope Bengkulu hadirkan pendidikan transformatif lewat pelatihan guru visioner

Foto: Sabtu (19/7), di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Sekolah HighScope Bengkulu menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidiknya.

Bengkulu, news-raflesia-indonesia.my.id – Sekolah HighScope Bengkulu bertaraf internasional kembali menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan kualitas pendidikan di daerah dengan menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidiknya.

Foto: Sabtu (19/7), di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Sekolah HighScope Bengkulu menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidiknya.

Sabtu (19/7), Two K Azana Style Hotel Bengkulu menjadi saksi semangat perubahan dalam dunia pendidikan saat para guru HighScope berkumpul untuk mengikuti pelatihan bertema Lead, Teach Collaboration, A Vision for Transformative Education.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengasah keterampilan profesional para pendidik, tapi juga membentuk karakter kepemimpinan dan semangat kolaboratif di lingkungan sekolah.

Materi pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan zaman, agar para guru mampu memimpin dan menjadi teladan dalam proses pembelajaran yang bermakna.

Foto: Sabtu (19/7), di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Sekolah HighScope Bengkulu menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidiknya.

Dalam sesi Lead, peserta diajak memahami peran guru sebagai penggerak utama perubahan dalam ruang kelas.

Melalui sesi Teach Collaboration, pelatihan mendorong pengembangan komunikasi efektif dan kerja tim yang sinergis di antara pendidik dan siswa.

Sementara itu, A Vision for Transformative Education membuka wawasan baru tentang pentingnya pendidikan yang mampu membentuk karakter dan pola pikir siswa untuk menjawab tantangan masa depan.

Chief Executive Officer (CEO) PT Yodan Land Group, Yosia Yodan, fasilitator pelatihan sekaligus pengelola HighScope Bengkulu, menyampaikan bahwa pendekatan konstruktif learning adalah fondasi utama dalam proses belajar di sekolah tersebut.

Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri peserta didik sejak dini, agar mereka mampu bersikap yakin dan menginspirasi orang lain.

“Kalau anak tidak percaya diri, bagaimana mungkin mereka bisa membuat orang lain percaya?” ujar Yosia dalam sesi motivasi.

Momentum pelatihan ini juga digunakan HighScope untuk memperkenalkan langkah strategis baru dalam kurikulum tahun ajaran mendatang.

Foto: Sabtu (19/7), di Two K Azana Style Hotel Bengkulu, Sekolah HighScope Bengkulu menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidiknya.

Bahasa Mandarin resmi dijadikan kurikulum unggulan untuk memperkuat kompetensi multibahasa siswa di era global.

Langkah ini diambil karena Tiongkok dinilai memiliki pengaruh besar dalam dinamika dunia, dan penguasaan bahasanya menjadi investasi penting.

Para pengajar Bahasa Mandarin di HighScope Bengkulu merupakan putra-putri daerah yang telah menempuh pendidikan di Tiongkok dan memiliki kualifikasi tinggi.

Menurut Yosia, hal ini menjadi kebanggaan tersendiri karena membuktikan potensi lokal mampu mendukung visi global.

Meski terus mengembangkan diri, HighScope Bengkulu menegaskan bahwa mereka tidak hadir untuk berkompetisi dengan sekolah lain.

Sebaliknya, semangat kolaborasi menjadi prinsip utama yang ditanamkan dalam semua program pendidikan mereka.

Yosia menekankan pentingnya sinergi antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam membentuk generasi masa depan.

“Kami bukan datang untuk bersaing, tapi untuk berkolaborasi,” tegasnya didepan awak media.

Saat ini, HighScope Bengkulu telah memiliki lebih dari 200 siswa dari jenjang “ECEP” hingga Middle School yang aktif mengikuti program pembelajaran berbasis karakter dan akademik.

Sekolah ini juga terus berkomitmen menjadi pelopor pendidikan berkualitas di Provinsi Bengkulu, dengan pendekatan progresif dan inklusif.

Transformasi pendidikan seperti ini diharapkan mampu menjawab tuntutan persaingan di berbagai sektor, sekaligus mencetak generasi Bengkulu yang kompeten dan berkarakter.

 

CEO Yodan Land Group Yosia yodan dan Winfrey eveline siapkan menu spesial bertema Vietnam untuk pecinta kopi Bengkulu

Foto: istimewa, CEO Yodan Land Group Yosia Yodan dan Winfrey Eveline akan Launching “Vietnam Series” dari Kraving Coffee.

Bengkulu, news-raflesia-indonesia – Yosia Yodan, CEO Yodan Land Group, bersama sang istri yang juga salah satu owner Luma Kraving, Winfrey Eveline, mengumumkan akan launching menu terbaru bertajuk “Vietnam Series” dari Kraving Coffee. Menu ini dijadwalkan akan launching di dua cabang, yaitu Kraving Coffee Sukarami dan Luma Kraving di Jalan Ciliwung, Padang Harapan, Kota Bengkulu, pada 28 Juli 2025 mendatang.

Yosia menyampaikan bahwa ide peluncuran “Vietnam Series” berangkat dari pengalaman mereka saat mempelajari budaya kopi langsung di Hanoi, Vietnam. Negara tersebut dikenal sebagai produsen kopi terbesar kedua di dunia setelah Brasil, dan memiliki budaya kopi yang sangat kuat.

Foto: istimewa, CEO Yodan Land Group Yosia Yodan dan Winfrey Eveline akan Launching “Vietnam Series” dari Kraving Coffee.

“Kemarin kami baru kembali dari Hanoi, Vietnam. Di sana, kami banyak belajar tentang budaya kopi dan semangat kerja dari para petani kopi. Coffee shop berkembang sangat pesat di sana. Bahkan, merek-merek internasional tidak terlalu mendominasi karena brand lokal seperti Highlands Coffee sangat kuat dan dipercaya masyarakat,” ujar Yosia, di Kraving Coffee Sukarami, Jumat (18/7).

Menurutnya, pelajaran tersebut menjadi inspirasi besar bagi pengembangan industri kopi lokal di Indonesia, khususnya di Provinsi Bengkulu. Ia berharap masyarakat Bengkulu, baik petani maupun pelaku usaha kopi, semakin percaya diri dengan sumber daya alam dan kemampuan yang dimiliki.

“Kita di Bengkulu punya potensi luar biasa. Sudah saatnya kita membangun coffee shop terbaik di daerah sendiri, dengan mengangkat cita rasa khas kopi lokal. Untuk Vietnam Series ini, seluruh biji kopinya asli dari Bengkulu. Kita percaya diri bahwa kopi kita tidak kalah bersaing,” tambahnya.

Menu “Vietnam Series” yang akan diluncurkan terdiri dari empat varian khas, yaitu Phin Coffee, Egg Coffee, Brown Coffee, dan Coconut Coffee. Keempat menu ini merupakan adaptasi dari minuman kopi populer di Vietnam, namun menggunakan biji kopi Bengkulu sebagai bahan utama.

Sementara itu, Winfrey Eveline yang juga merupakan owner Luma Kraving, menyampaikan bahwa dirinya turut mengikuti pelatihan kopi di Vietnam dan antusias untuk memperkenalkan menu baru ini kepada masyarakat Bengkulu.

“Selama di Vietnam, kami mengikuti pelatihan khusus tentang penyajian kopi khas Vietnam. Harapannya, menu ini bisa diterima dengan baik oleh masyarakat di Provinsi Bengkulu dan menjadi daya tarik baru di dunia perkopian lokal,” jelas Winfrey.

Inkubasi Fesyen Wastra Bengkulu 2025: Strategi menguatkan daya saing wastra lokal

Foto: Istimewa, kepala Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, memberikan sambutan pada acara pembukaan Inkubasi Fesyen Wastra Bengkulu 2025 yang berlangsung di SMKN 5 Kota Bengkulu.

news-raflesia-indonesia – Provinsi Bengkulu memiliki kekayaan budaya yang khas dan autentik, salah satunya terlihat dari wastra tradisional yang unik dan penuh makna.

Foto: istimewa

Kain Besurek menjadi salah satu wastra khas Bengkulu yang memiliki filosofi mendalam dan terus dijaga kelestariannya oleh masyarakat.

Selain Besurek, ragam wastra lainnya turut memperkaya khazanah budaya Bengkulu, seperti Tenun Bumpak dari Seluma, Batik Tando Pusako dari Mukomuko, Batik Sekundang dari Bengkulu Selatan, dan Batik Sungai Lemau dari Bengkulu Tengah.

Pelestarian wastra tradisional menjadi bagian penting dalam menjaga identitas daerah sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif di tingkat lokal.

Pemerintah dan pelaku usaha lokal berkomitmen mengembangkan wastra agar mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.

Bank Indonesia turut mengambil peran dalam mendukung pengembangan UMKM wastra melalui kebijakan yang terfokus pada penguatan korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan akses pembiayaan.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu menyelenggarakan Inkubasi Fesyen Wastra Bengkulu 2025 sebagai bentuk nyata dari pilar peningkatan kapasitas.

Program ini dihadirkan untuk meningkatkan kualitas, kreativitas, dan daya saing UMKM wastra agar tetap relevan di tengah dinamika pasar fesyen.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, “Program Inkubasi Fesyen Wastra Bengkulu 2025 adalah bentuk nyata dukungan kami terhadap peningkatan kualitas UMKM wastra di Bengkulu. Kami ingin agar wastra yang kaya akan nilai budaya ini tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga mendunia. Melalui inkubasi ini, kami berharap para peserta dapat menciptakan produk fesyen yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.”

Inkubasi Fesyen Wastra Bengkulu 2025 dilaksanakan selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Juli 2025, berlokasi di SMKN 5 Kota Bengkulu.

Rekrutmen peserta telah berlangsung sejak 27 Juni hingga 10 Juli 2025 dengan melibatkan pelaku UMKM dari berbagai daerah di Bengkulu.

Sebanyak 30 peserta terpilih setelah melewati proses seleksi, terdiri atas 15 peserta di kelas desain fesyen dan 15 peserta di kelas produksi fesyen.

Selama pelaksanaan program, peserta mendapatkan pendampingan intensif dari mentor profesional yang berpengalaman di industri fesyen nasional.

Kolaborasi lintas kelas menjadi salah satu metode pembelajaran yang diterapkan, agar peserta mampu menghasilkan produk fesyen berbasis wastra yang modern dan bernilai budaya.

Indonesia Fashion Chamber (IFC) menjadi mitra utama dalam kegiatan ini dengan menghadirkan mentor-mentor ternama yang sudah berkiprah di dunia fesyen.

Hasil karya peserta dari program inkubasi akan dipamerkan dalam ajang BRIEF x Bencoolen Fest sebagai salah satu strategi promosi produk UMKM sektor wastra dan fesyen.

Kehadiran SMKN 5 Kota Bengkulu sebagai tempat pelaksanaan program mempertegas pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri kreatif di Bengkulu.

Melalui program ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu berharap dapat meningkatkan kapasitas SDM kreatif di daerah sekaligus mendorong wastra Bengkulu naik kelas dan dikenal lebih luas di pasar nasional maupun global.Rls

Langsung ke sumbernya, Yosia Yodan pelajari teknik seduh dan inovasi kopi Vietnam.

Foto: Dok. Yosia yodan. Yosia Yodan, didampingi sang istri, Winfrey Eveline memilih terjun langsung ke Hanoi, Vietnam, guna melakukan kunjungan pembelajaran di Su Quan Roastery Hanoi, Vietnam , Pertengahan Juli 2025.

Hanoi, Vietnam, news-raflesia-indonesia — Untuk menambah wawasan sekaligus memperkuat kualitas industri kopi daerah, Ketua Umum BPD HIPMI Bengkulu, Yosia Yodan, memilih terjun langsung ke Hanoi, Vietnam, guna melakukan kunjungan pembelajaran.Yosia tidak sendiri dalam perjalanan ini. Ia didampingi sang istri, Winfrey Eveline, yang juga antusias terlibat dalam setiap sesi kunjungan mereka.

Kunjungan ini dilakukan pada pertengahan Juli 2025, bertepatan dengan semakin maraknya tren kopi spesialti yang tengah berkembang di kawasan Asia.

Pusat kegiatan mereka berada di Su Quan Roastery, sebuah tempat ternama di Hanoi yang dikenal sebagai pelestari teknik seduh kopi tradisional Vietnam.

Foto: Dok. Yosia yodan. Yosia Yodan, didampingi sang istri, Winfrey Eveline memilih terjun langsung ke Hanoi, Vietnam, guna melakukan kunjungan pembelajaran di Su Quan Roastery Hanoi, Vietnam , Pertengahan Juli 2025.

Tujuan utama kunjungan ini adalah mempelajari budaya, filosofi, serta teknik penyeduhan kopi khas Vietnam yang menjadi daya tarik pecinta kopi dunia.

Vietnam dipilih karena dikenal sebagai negara penghasil kopi terbesar kedua di dunia, sekaligus pernah meraih posisi teratas sebagai eksportir kopi global.

Yosia dan istri mendalami berbagai metode seduh, mulai dari Manual Brew hingga teknik klasik Vietnam, yakni Phin Coffee yang khas dengan proses penyaringannya.

Mereka juga mengeksplorasi berbagai varian kopi khas Vietnam, seperti Egg Coffee yang creamy, Brown Coffee yang kuat, dan Coconut Coffee yang unik dan segar.

Seluruh proses ini dilakukan tidak hanya dengan belajar teori, tetapi juga melalui praktik langsung bersama barista lokal di Hanoi.

Selain teknik seduh, mereka mendapatkan wawasan mengenai dinamika industri kopi global dan berbagai inovasi yang muncul dari pasar kopi Vietnam.

Ilmu dan pengalaman yang diperoleh akan dibawa pulang untuk dikembangkan di Kraving Coffee, brand kopi lokal asal Bengkulu yang dibina langsung oleh Yosia.

Yosia berharap pengalaman ini dapat memberi kontribusi nyata dalam pengembangan UMKM kopi di Bengkulu dan memperluas potensi bisnis kopi lokal ke pasar nasional dan internasional.

Dengan semangat kerja sama dan inovasi, Yosia bertekad menerapkan ilmu yang didapat untuk usahanya, sekaligus berbagi pengalaman dengan pelaku UMKM di Indonesia.

error: Content is protected !!