Bank Indonesia Bengkulu dorong sinergi moneter-fiskal jaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global

Foto: Sarasehan Perekonomian Bengkulu Diseminasi LPP dan KFR triwulan I tahun 20206, di hotel Santika Kota Bengkulu. 6 Februari 2026

news-raflesia-indonesia, Bengkulu – Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu menggelar Ruang Diskusi Sarasehan Perekonomian Bengkulu, Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Februari 2026, serta Kajian Fiskal Regional (KFR) Triwulan I 2026 bertema Sinergi Moneter dan Fiskal. Acara berlangsung di Hotel Santika Kota Bengkulu pada Kamis (9/4) dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Kegiatan ini menghadirkan Deputi Bank Indonesia Bengkulu, Asisten Pembangunan Provinsi Bengkulu R.A. Denny, S.H., M.M., serta Head Office Bank Mandiri Bengkulu Dendi Ramdani. Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bengkulu M. Irfan Surya Wardana turut menjadi narasumber utama dalam diskusi yang membahas arah kebijakan ekonomi daerah.

Turut hadir perwakilan bupati dan walikota, pimpinan instansi vertikal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pimpinan perbankan, pelaku usaha, akademisi, mahasiswa, serta jurnalis. Kehadiran lintas sektor ini menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga keberlangsungan produksi dan distribusi di tengah tekanan geopolitik.

Dalam sambutannya, RA. Denni menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin. Ia menekankan bahwa koordinasi antar lembaga menjadi pondasi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi Bengkulu, terutama menghadapi ketidakpastian global.

Lebih lanjut berdasarkan Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Bengkulu tumbuh 4,80% (yoy) sepanjang 2025, meningkat dibandingkan 2024 sebesar 4,62% (yoy). Pertumbuhan ini sejalan dengan rata-rata nasional 5,11% (yoy) dan mendekati rata-rata Sumatera 4,81% (yoy). Sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Deputi BI Bengkulu Muhammad Irfan menegaskan bahwa PDRB Bengkulu pada Triwulan I 2026 diperkirakan tetap tumbuh meski sedikit melandai akibat tekanan eksternal dan penyesuaian fiskal. Optimisme tetap terjaga berkat dukungan sektor unggulan seperti sawit, kopi, dan perikanan.

Inflasi Bengkulu pada Maret 2026 tercatat 2,85%, lebih rendah dari rata-rata nasional 3,48%. Hal ini menunjukkan efektivitas koordinasi antara BI, pemerintah daerah, dan instansi terkait dalam menjaga stabilitas harga, meski tekanan harga pangan mulai terlihat pada awal April.

Selain membahas ekonomi, Pembawah acara memakai batik Sekundang khas Bengkulu Selatan karya UMKM binaan BI sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas lokal. Hal ini menegaskan bahwa penguatan ekonomi daerah juga harus berbasis pada budaya dan kearifan lokal.

Sebagai bentuk kepedulian lingkungan, BI Bengkulu membagikan 200 bibit pohon kepada peserta sarasehan. Penanaman pohon ini diperkirakan mampu menyerap 11.000 kg karbon dioksida, sekaligus mendukung aksi nyata pengurangan emisi karbon.

Acara sarasehan ekonomi Bengkulu berjalan sukses dengan semangat kolaborasi lintas sektor. Sinergi moneter dan fiskal yang dibangun diharapkan mampu menjaga keberlangsungan produksi dan distribusi, serta memperkuat pondasi ekonomi Bengkulu menghadapi tantangan global.

Pewarta: Man

 

banner 728x250