BI-rate naik, Kepala BI Bengkulu optimis rupiah stabil dan ekonomi daerah menguat

Foto: Kepala KPwBI Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, terlihat sedang berbincang santai dengan awak media di di Mega Mall, Kota Bengkulu, Selasa 9/6/2026.

news-raflesia-indonesia, Bengkulu – Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin sebagai langkah strategis menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Langkah ini diambil di tengah tekanan global yang memengaruhi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Kepala Kantor Perwakilan (KPW) BI (Bank Indonesia) Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyampaikan kebijakan tersebut dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Megamall Bengkulu, Selasa (9/6).

https://www.youtube.com/watch?v=KDqVYnjstyQ

Wahyu menjelaskan bahwa kenaikan BI-Rate bertujuan menjaga daya saing rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat. Menurutnya, pasar keuangan global terus mencermati selisih tingkat suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat sebagai bahan pertimbangan investor. Selisih tersebut menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga minat investor untuk menempatkan dananya di dalam negeri.

Lebih lanjut, Wahyu mengungkapkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini dipicu oleh tiga faktor utama. Pertama, meningkatnya konflik geopolitik yang mendongkrak harga minyak dunia. Kedua, adanya periode musiman pembagian dividen bagi investor asing. Ketiga, tingginya kebutuhan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar tidak hanya bergantung pada faktor fundamental ekonomi seperti rasio utang atau defisit. Sentimen pasar seperti kepastian berusaha, kepastian regulasi, dan faktor non-ekonomi lainnya turut memengaruhi pasar keuangan. Oleh karena itu, sinergi antara otoritas moneter, pemerintah, dan OJK harus diperkuat guna menjaga kepercayaan investor.

Terkait pelemahan rupiah, Wahyu menyebutkan dampaknya bagi daerah seperti Bengkulu memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, pelemahan rupiah dapat memicu imported inflation yang berpotensi meningkatkan biaya produksi. Di sisi lain, hal ini dapat memberikan keuntungan bagi eksportir jika kegiatan produksinya tidak bergantung pada bahan baku impor.

Meskipun terdapat tantangan, Wahyu tetap optimistis Bengkulu mampu memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Ia menilai Bengkulu memiliki potensi besar melalui komoditas unggulan ekspor dan sektor hortikultura yang terus menunjukkan pertumbuhan positif. Sektor-sektor ini diharapkan menjadi penopang ekonomi daerah sekaligus sumber devisa yang kuat.

BI berkomitmen menjaga keseimbangan agar dampak perubahan nilai tukar tidak merugikan pihak manapun. Wahyu menegaskan bahwa Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas ekonomi sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat. Fokus utama saat ini adalah mengoptimalkan kondisi yang ada menjadi peluang bagi perekonomian daerah.

Ke depan, penyesuaian suku bunga tetap terbuka apabila kondisi pasar dan nilai tukar memerlukannya. Bank Indonesia akan terus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk masukan dari lembaga pemeringkat internasional seperti S&P, Fitch, dan Moody’s agar sentimen pasar tetap terjaga. Hal ini dilakukan demi memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjamin di tengah ketidakpastian global.

https://www.youtube.com/watch?v=kG8mucBtdPw&t=7s

Sebagai penutup, Wahyu menekankan pentingnya kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan untuk menghadapi tantangan ekonomi. Dengan soliditas antara otoritas moneter dan pemerintah, diharapkan ekonomi Bengkulu dapat terus tumbuh secara berkelanjutan meski di tengah tantangan ekonomi global yang dinamis

pewarta: man

banner 728x250