Insan Pers Bengkulu gelar aksi solidaritas, Desak operasi pencarian 5 Jurnalis di anak Krakatau diperpanjang

Foto: Sejumlah jurnalis di Provinsi Bengkulu membentangkan spanduk bertuliskan "Aksi Solidaritas Hilangnya Jurnalis" saat menggelar aksi damai dan doa bersama. Aksi ini dilakukan untuk mendesak perpanjangan masa operasi pencarian lima wartawan yang hilang di kawasan Gunung Anak Krakatau.

news-raflesia-indonesia, Bengkulu – Dukungan moral bagi lima jurnalis yang hilang saat bertugas di area Gunung Anak Krakatau tak surut mengalir. Komunitas wartawan di Provinsi Bengkulu turun ke jalan menyuarakan aksi solidaritas, sekaligus mendesak pihak berwenang agar memperpanjang masa operasi pencarian para korban.

Bentuk kepedulian tersebut diwujudkan melalui aksi penyalaan lilin, doa bersama, mimbar bebas, serta pembentangan spanduk. Gerakan ini ditujukan sebagai suntikan semangat bagi pihak keluarga dan rekan sejawat yang tengah menanti kabar pasti mengenai kondisi para awak media tersebut.

Agenda yang sarat rasa empati ini dihadiri langsung oleh Ketua PWI Provinsi Bengkulu, Marsal Abadi, bersama perwakilan Basarnas Bengkulu. Kehadiran pimpinan organisasi profesi dan institusi penyelamat ini menegaskan komitmen serta solidaritas insan pers daerah dalam mendukung penuh upaya pencarian di lapangan.

Dalam doa bersama, para wartawan berharap proses pencarian tidak dihentikan sebelum seluruh upaya dilakukan secara maksimal. Penyalaan lilin kemudian dilakukan sebagai simbol harapan dan penghormatan terhadap para wartawan yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Sementara melalui mimbar bebas, sejumlah wartawan menyampaikan pandangan dan tuntutan agar proses pencarian tetap dilanjutkan. Mereka menilai keselamatan jurnalis yang sedang menjalankan tugas merupakan persoalan kemanusiaan sekaligus menjadi perhatian bersama insan pers.

Inisiator aksi solidaritas, Ilham Juliandi, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sesama wartawan.

“Kami berkumpul bukan sekadar untuk melakukan aksi, tetapi untuk menyampaikan pesan bahwa kami masih menunggu dan berharap pencarian terhadap lima rekan wartawan ini terus dilakukan. Kami meminta proses pencarian diperpanjang dan dilakukan secara maksimal,” ujar Ilham.

Menurutnya, wartawan menjalankan tugas jurnalistik untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Karena itu, ketika ada wartawan yang mengalami musibah saat menjalankan tugas, solidaritas sesama jurnalis dinilai perlu ditunjukkan.

Ilham mengatakan pemasangan spanduk menjadi salah satu simbol bahwa perhatian terhadap lima wartawan yang hilang tidak boleh berhenti hanya karena terbatasnya waktu operasi pencarian.

“Spanduk ini menjadi pengingat bahwa ada lima rekan kami yang belum ditemukan. Harapan keluarga dan teman-temannya masih ada. Karena itu kami berharap pihak terkait mempertimbangkan untuk memperpanjang operasi pencarian,” katanya.

Sementara itu, jurnalis Mahmud Yunus menyampaikan bahwa hilangnya lima wartawan tersebut menjadi keprihatinan mendalam bagi kalangan pers. Menurutnya, pencarian harus tetap mengedepankan kemanusiaan dan dilakukan dengan seluruh sumber daya yang memungkinkan.

“Kami sebagai sesama jurnalis tentu berharap ada kabar baik. Mereka pergi menjalankan tugas jurnalistik, sehingga kami ingin proses pencarian dilakukan secara maksimal. Jangan sampai operasi dihentikan sementara keluarga dan rekan-rekan mereka masih menunggu kepastian,” ujar Mahmud.

Mahmud menambahkan, aksi tersebut juga menjadi bentuk dukungan moral kepada keluarga para wartawan yang hingga kini masih berada dalam situasi penuh ketidakpastian.

“Doa bersama, penyalaan lilin dan mimbar bebas ini adalah cara kami menunjukkan bahwa mereka tidak sendiri. Kami bersama keluarga dan terus berharap lima rekan kami dapat ditemukan,” katanya.

Rangkaian aksi kemudian ditutup dengan pemasangan spanduk solidaritas. Para wartawan yang hadir berharap tuntutan untuk memperpanjang pencarian mendapat perhatian dari pihak berwenang sehingga upaya menemukan kelima wartawan dapat terus dilakukan.

Pewarta: Man