banner 1000x350

Redaksi

973 KIRIMAN 0 KOMENTAR

Wakapolri apresiasi sinergi ribuan mitra kamtibmas dalam apel mitra Kamtibmas Presisi di Polda Papua

Foto: istimewa

news-raflesia-indonesia, Jayapura — Wakapolri Komjen Pol Prof. Dr. Dedi Prasetyo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi Papua, Polda Papua, serta seluruh komunitas yang hadir dalam Apel Mitra Kamtibmas Presisi 2025. Lebih dari 1.000 peserta dari berbagai elemen masyarakat turut serta, menunjukkan kuatnya kolaborasi menjaga keamanan dan ketertiban di tanah Papua, Selasa (9/12).

Dalam kesempatan itu, Wakapolri menegaskan bahwa situasi kamtibmas di Papua saat ini terbilang kondusif, berkat kerja sama erat antara kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat.

“Ini bukti nyata bahwa kamtibmas di Papua bukan hanya hasil kerja satu pihak, tapi kerja bareng semua stakeholder. Komunitas ojek, satpam, nelayan, petani, rapi, orari, UMKM, semuanya terlibat. Inilah kekuatan Papua,” ujar Komjen Dedi.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota dan Gubernur Papua sehingga apel besar ini dapat berjalan aman dan meriah.

Menurut Wakapolri, keberadaan lebih dari seribu peserta yang hadir secara sukarela menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki kepedulian tinggi terhadap keamanan wilayahnya.

Wakapolri juga menegaskan bahwa menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Papua berada dalam kondisi aman dan siap menghadapi peningkatan aktivitas masyarakat.

“Alhamdulillah, kondisi Papua sangat kondusif. Kita semua berharap momen Natal dan Tahun Baru nanti bisa berjalan lancar dan damai,” ujarnya.

FotoWakapolri juga menyampaikan bahwa seluruh unsur keamanan di Papua telah berada dalam kondisi siap menghadapi situasi kontinjensi apa pun.

“Kita tentu tidak menginginkan terjadi hal yang tidak diinginkan. Tapi kalau pun ada kondisi darurat, Polda Papua sudah sangat siap dengan personel, sarana-prasarana, dan kemampuan yang dimiliki,” tegasnya.

Menutup keterangannya, Wakapolri menyampaikan duka mendalam atas musibah yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Kami ikut berduka. Semoga saudara-saudara kita diberi kekuatan dan ketabahan untuk melewati ujian ini,” tutur Komjen Dedi.

Apel Mitra Kamtibmas Presisi Polri di Papua menjadi bukti kuatnya kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan. Polri menegaskan komitmen untuk terus memperkuat kemitraan dan menghadirkan pelayanan terbaik demi Papua yang aman, produktif, dan nyaman bagi seluruh warganya. Rls

Limbah menyengat dan drainase buruk di Padang Jati, Sudisman janji tindak lanjut

Reses Masa Sidang III Tahun 2025 yang dilaksanakan oleh Anggota DPRD Kota Bengkulu, Sudisman, S.Sos, pada Senin (8/12) di halaman Kantor Camat Ratu Samban

news-raflesia-indonesia, Bengkulu – Dalam kegiatan Reses Masa Sidang III Tahun 2025 yang dilaksanakan oleh Anggota DPRD Kota Bengkulu, Sudisman, S.Sos, pada Senin (8/12) di halaman Kantor Camat Ratu Samban, warga Kecamatan Ratu Samban kembali menyampaikan keluhan mereka. Warga mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi drainase yang tidak memadai serta persoalan pencemaran lingkungan yang kian mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat sekitar.

Dalam forum reses tersebut, warga menyoroti kondisi drainase di Jalan MT Haryono yang kerap meluap saat hujan deras. Air yang tidak tertampung menyebabkan banjir hingga setinggi lutut orang dewasa, mengganggu aktivitas warga dan membahayakan pengguna jalan.

Tak hanya itu, drainase di kawasan Padang Jati, tepatnya di belakang Hotel Mercure, juga menjadi sorotan. Warga mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari aliran limbah dan menurunkan kualitas hidup masyarakat sekitar.

Menanggapi keluhan tersebut, Sudisman menegaskan bahwa seluruh aspirasi warga akan dibawa ke rapat internal DPRD dan disampaikan kepada Pemerintah Kota Bengkulu. Ia juga berjanji akan menjadwalkan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi terdampak dalam waktu dekat.

“Kami akan turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya, terutama dugaan pencemaran limbah dari Hotel Mercure yang berdampak pada warga,” ujar Sudisman di depan awak media.

Sudisman juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi drainase di belakang Hotel Mercure yang dipenuhi air bercampur kotoran. Ia menilai situasi ini sangat membahayakan, apalagi disekitar lokasi tersebut sering dijadikan tempat bermain anak-anak.

Selain masalah drainase, warga juga mengeluhkan minimnya lampu jalan di beberapa titik. Kondisi ini menambah kekhawatiran warga, terutama saat malam hari, karena meningkatkan risiko kecelakaan dan tindak kriminal.

Lebih lanjut Ia menambahkan juga bahwa kawasan Pengantungan RT 11 juga mengalami masalah serupa. Meski sudah tiga kali dilakukan sidak sejak 2024, perbaikan belum juga terealisasi. Sudisman mendesak Dinas PUPR untuk segera menindaklanjuti janji mereka.

Reses Masa Sidang III Tahun 2025 yang dilaksanakan oleh Anggota DPRD Kota Bengkulu, Sudisman, S.Sos, pada Senin (8/12) di halaman Kantor Camat Ratu Samban

Menurut Sudisman, drainase di beberapa wilayah Kota Bengkulu masih alami dan belum tersentuh pembangunan. Hal ini menyulitkan akses warga, terutama saat musim hujan, dan seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah daerah.

Ia juga menyoroti pentingnya pemasangan pagar pengaman di sekitar drainase, terutama di lokasi rawan kecelakaan. Tanpa pagar, anak-anak yang bermain di sekitar saluran air sangat rentan mengalami kecelakaan.

Sudisman menegaskan bahwa DPRD akan memetakan wilayah-wilayah yang belum tersentuh pembangunan. Ia berkomitmen untuk mendorong pemerintah agar visi dan misi kepala daerah dalam pembangunan infrastruktur dapat tercapai secara maksimal.

Dengan adanya reses ini, warga berharap suara mereka benar-benar didengar dan ditindaklanjuti. Mereka ingin hidup di lingkungan yang bersih, aman, dan bebas dari ancaman banjir serta pencemaran.

 

Sinergi Polri dan BKSDA : Gajah dikerahkan bersihkan material banjir di Pidie Jaya

Foto: istimewa

news-raflesia-indonesia, Meureudu – Empat ekor gajah milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah tiba lengkap di Kabupaten Pidie Jaya untuk membantu proses pembersihan material pascabencana banjir. Hewan-hewan tersebut langsung dikerahkan untuk menarik timbunan kayu dan material berat yang terseret arus banjir beberapa waktu lalu.

Kegiatan pembersihan hari ini dipusatkan di Gampong Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, salah satu kawasan yang paling terdampak akibat tumpukan kayu dan lumpur.

Kasat Reskrim Polres Pidie Jaya, Iptu Fauzi Admaja, mewakili Kapolres Pidie Jaya, menyampaikan bahwa seluruh gajah telah tiba dan langsung bekerja membantu masyarakat.

“Empat gajah yang kita datangkan bersama BKSDA Aceh hari ini sudah berada di lokasi. Mereka langsung kita kerahkan untuk menarik kayu-kayu besar serta material berat lainnya yang menumpuk akibat banjir,” ujar Iptu Fauzi.

Kapolres Pidie Jaya AKBP Ahmad Faisal Pasaribu turut memberikan penjelasan mengenai tujuan kedatangan gajah tersebut. Selain untuk membantu proses pembersihan, gajah-gajah ini juga dihadirkan sebagai bentuk dukungan psikologis bagi anak-anak yang terdampak banjir.

“Gajah-gajah ini kita datangkan bukan hanya untuk mengangkat material berat, tetapi juga untuk kegiatan trauma healing bagi anak-anak korban banjir. Kehadiran gajah dapat menghadirkan suasana ceria, mengurangi ketegangan, dan membantu memulihkan kondisi psikologis mereka,” ujar Kapolres.

Ia menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan komitmen Polri untuk masyarakat dalam menghadirkan pelayanan yang humanis dan responsif, sesuai dengan motto Polda Aceh “Meutuah Sabe Tajaga, Aceh Mulia.”

Melalui kerja sama antara Polres Pidie Jaya dan BKSDA Aceh ini, proses pembersihan diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, sekaligus memberi dukungan emosional bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang terdampak banjir. rls

Polri kerahkan ratusan personel tambahan untuk percepatan mitigasi bencana di 3 provinsi sumatera

Foto: istimewa

news-raflesia-indonesia, Depok — Polri mengerahkan ratusan personel dan berbagai perlengkapan taktis untuk membantu penanganan bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Pada Senin, 8 Desember 2025, Wakapolri memimpin pengecekan kesiapan pasukan di Mako Korps Brimob Kelapa Dua, Depok, sebagai tindak lanjut instruksi Presiden.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan bahwa langkah ini dilakukan untuk memastikan dukungan yang dikirim ke wilayah terdampak benar-benar optimal. “Bapak Presiden menekankan agar seluruh kekuatan Polri dioptimalkan. Karena itu, hari ini dilakukan pengecekan menyeluruh terhadap personel dan peralatan yang akan diberangkatkan,” ujarnya.

Adapun kekuatan yang dikirim terdiri dari 361 personel Brimob, 200 personel Sabhara, 12 ambulans dengan 48 tenaga kesehatan, 19 K9, 15 dapur lapangan, 12 unit water treatment, perlengkapan SAR, serta kendaraan taktis dan teknis. Pasukan ini akan didistribusikan ke beberapa wilayah, termasuk Aceh Besar, Aceh Tamiang, Bireuen, Gayo Lues, Agam, dan Tapanuli.

Selain pencarian dan evakuasi, Polri juga membantu distribusi BBM, penyediaan air bersih, layanan kesehatan, hingga fasilitas ujian bagi pelajar terdampak. “Kami memastikan kegiatan masyarakat tetap berjalan meski di tengah situasi bencana,” kata Trunoyudo.

Terkait identifikasi korban, tim DVI masih bekerja di lapangan dan kini dilengkapi tambahan fasilitas pendingin jenazah. “Freezer tambahan telah dikirim dari Polda Riau. Ini penting agar identifikasi post-mortem, antemortem, hingga DNA dapat dipercepat,” jelasnya.

Brigjen Trunoyudo menegaskan komitmen Polri dalam misi kemanusiaan. “Polri akan terus hadir secara optimal dalam memulihkan kondisi pasca bencana,” tutupnya. rls

Bahu membahu, Brimob pindahkan rumah terseret banjir yang melintang di jalan nasional Tamiang–Langsa

Foto: istimewa

news-raflesia-indonesia, Kuala Simpang — Personel Brimob Polda Aceh bergerak cepat memindahkan sebuah rumah warga yang terseret banjir bandang hingga melintang di badan Jalan Nasional Langsa —Tamiang. Upaya ini dilakukan untuk memastikan akses lalu lintas kembali terbuka sehingga distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak tidak mengalami hambatan.

Rumah tersebut diketahui terbawa arus deras banjir dari kawasan permukiman dan tersangkut di tengah jalan, menutup jalur utama yang menghubungkan Aceh Tamiang dan Kota Langsa. Agar arus lalu lintas lancar, personel Brimob bersama masyarakat bekerja bahu-membahu mengevakuasi struktur rumah ke lokasi aman di pinggir jalan.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Joko Krisdiyanto, mengatakan bahwa tindakan cepat Brimob ini dilakukan untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat sekaligus mempercepat proses penyaluran bantuan.

“Personel Brimob bertindak cepat begitu menerima laporan adanya rumah yang menghalangi jalan nasional. Respons ini penting agar akses masyarakat tidak terganggu dan distribusi logistik untuk korban banjir dapat berjalan lancar,” ujar Joko, pada Minggu, 7 Desember 2025

Ia menambahkan bahwa upaya,-upaya penanggulangan terus dioptimalkan untuk memastikan setiap lokasi terdampak bencana banjir ditangani dengan baik.

“Semua unsur Polri di lapangan saling mendukung. Tugas kami bukan hanya memastikan keamanan, tetapi juga membantu masyarakat dalam situasi darurat seperti ini. Semangat kebersamaan menjadi kunci dalam penanganan bencana,” kata Joko.

Aksi cepat Brimob tersebut mendapat apresiasi dari warga setempat yang menyaksikan langsung proses pemindahan rumah. Mereka menilai kehadiran dan kerja nyata polisi sangat membantu di tengah keterbatasan alat dan sulitnya situasi akibat banjir.

Penanganan ini menjadi bukti nyata bahwa Polri hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai kekuatan yang terus membantu masyarakat dalam kondisi sulit. Semoga upaya penanggulangan banjir di Aceh Tamiang dan sekitarnya diharapkan berjalan semakin cepat dan efektif. rls

Guru Besar Unpad Tegaskan Polri Tepat Berada di Bawah Presiden: Sebuah Argumentasi Konstitusional

Foto: istimewa

news-raflesia-indonesia, Jakarta — Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. I Gde Pantja Astawa, S.H., M.H., menegaskan bahwa kedudukan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagai alat negara yang berada langsung di bawah Presiden merupakan pilihan konstitusional yang paling tepat, relevan, dan selaras dengan sejarah pembentukan negara serta dinamika sistem ketatanegaraan Indonesia.

Menurut Prof. Pantja, gagasan tersebut berangkat dari teori perjanjian sosial yang dikemukakan tokoh-tokoh seperti Thomas Hobbes, John Locke, hingga Jean Jacques Rousseau. Dalam state of nature, manusia akan selalu berada dalam kondisi saling mengancam tanpa adanya institusi yang menjamin keamanan. Karena itu, pembentukan negara pada dasarnya lahir untuk menghadirkan keteraturan, keamanan, dan perlindungan bagi seluruh warga negara.

“Tugas menjaga keamanan dan ketertiban adalah tugas paling awal dan paling tradisional dari setiap pemerintahan. Bahkan, pembentukan negara pertama-tama ditujukan untuk melindungi keselamatan masyarakat,” ujar Prof. Pantja.

Ia menekankan bahwa hal ini sejalan dengan Alinea IV Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan tujuan negara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Ketentuan tersebut kemudian dijabarkan dalam Pasal 30 ayat (4) UUD 1945 yang secara eksplisit menyebutkan Polri sebagai alat negara yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum.

Lebih lanjut, Prof. Pantja menjelaskan bahwa kedudukan Polri di bawah Presiden juga ditegaskan dalam Tap MPR No. VII/MPR/2000 dan Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Polri.

“Sejak awal reformasi hingga lebih dari dua dekade berjalan, regulasi kita konsisten menempatkan Polri sebagai institusi yang berada langsung di bawah Presiden. Ini bukan tanpa alasan—ini adalah kebutuhan konstitusional dalam sistem eksekutif tunggal Indonesia,” jelasnya.

Prof. Pantja mengungkapkan tujuh alasan penting mengapa kedudukan Polri harus tetap berada langsung di bawah Presiden, bukan dialihkan ke kementerian sebagaimana sempat diwacanakan sejumlah pihak:

1. Memungkinkan Kapolri mengikuti sidang kabinet, sehingga dapat merespons cepat perkembangan situasi nasional dan global.

“Kapolri hadir dalam sidang kabinet bukan sebagai menteri, tetapi karena jabatannya setingkat menteri dan memegang peran strategis dalam keamanan nasional,” ungkap Prof. Pantja.

2. Menegaskan lingkup tugas Polri sebagai perangkat pusat yang berwenang di seluruh wilayah hukum Indonesia, bukan perangkat daerah.

3. Menjamin independensi Polri dari kepentingan politik maupun kelompok tertentu.

“Penempatan di bawah Presiden menjaga Polri tetap independen, tidak terseret arus kepentingan politik praktis,” katanya.

4. Memberikan ruang bagi Polri untuk menentukan kebijakan strategis dalam menghadapi dinamika keamanan yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi.

5. Mempercepat penegakan hukum tanpa birokrasi panjang, khususnya pada kasus-kasus kriminal strategis.

6. Meningkatkan kepercayaan masyarakat karena Polri dipandang sebagai institusi yang netral dan tidak partisan.

7. Memperkuat koordinasi lintas lembaga, khususnya dengan TNI, Kemendagri, dan instansi lainnya.

Munculnya wacana menempatkan Polri di bawah kementerian dinilai sebagai langkah mundur.

“Dalam sejarah panjangnya, ketika Polri berada di bawah departemen atau bagian dari struktur lain seperti ABRI, Polri sering mengalami intervensi kekuasaan dan politik. Hal itu menghambat profesionalisme, soliditas, dan kemandirian Polri,” tegas Prof. Pantja.

Ia mengingatkan bahwa perjalanan reformasi telah membawa Polri menjadi institusi yang mandiri dan profesional, sehingga perubahan struktur justru berpotensi menggerus capaian tersebut.

Di bagian penutup argumennya, Prof. Pantja menegaskan:

“Secara konstitusional, historis, dan teoritis, keberadaan Polri sebagai alat negara yang berada langsung di bawah Presiden selaku Kepala Negara adalah yang paling tepat dan beralasan. Penempatan ini menjamin efektivitas, independensi, dan profesionalitas Polri dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta penegakan hukum di seluruh wilayah Indonesia.”

Dengan demikian, kedudukan Polri di bawah Presiden—yang saat ini dijabat oleh Presiden Prabowo Subianto—merupakan bagian integral dari desain ketatanegaraan Indonesia yang harus dipertahankan demi stabilitas keamanan nasional serta kepentingan masyarakat luas. rls

error: Content is protected !!